Mengambil Gambar Dalam Perspektif 360 Derajat - Pelajaran Ke 2 - Sokopati Online

Mengambil Gambar Dalam Perspektif 360 Derajat - Pelajaran Ke 2

Mengambil Gambar Dalam Perspektif 360 Derajat - Pelajaran Ke 2

Membuat video 360 derajat dan virtual reality dapat menyenangkan, tetapi juga sedikit rumit karena Anda menggunakan kamera dengan banyak lensa. Cobalah beberapa saran berikut agar pengambilan gambar lebih berhasil.

 

1. Mengarahkan Pemirsa

Pengambilan gambar dalam perspektif 360 derajat untuk video VR dan 360 melibatkan lebih dari sekadar gambar, melainkan tentang keseluruhan adegan. Video realitas virtual (VR) dan 360 derajat (360) dirancang untuk menempatkan pemirsa di pusat semesta video. Jadi, penting untuk mempertimbangkan bagaimana Anda akan memandu mereka di setiap adegan dan apa yang akan mereka lihat di segala arah di sekitar mereka. Dalam pelajaran ini, akan dibahas beberapa saran dan teknik untuk pengambilan gambar dalam perspektif 360 derajat. Perlu diingat bahwa ini adalah lanskap yang cepat berubah dan bukan merupakan aturan konkret. Walaupun ada beberapa parameter umum untuk pengambilan gambar dalam perspektif 360 derajat, teknologi ini terus berkembang, jadi pastikan Anda meluangkan waktu untuk bereksperimen dan menguji coba hal-hal baru.
Pembuat konten telah berhasil menggunakan video VR atau 360 dengan memastikan bahwa pengalaman tersebut “berpusat” pada pemirsa. Ingat, pemirsa tidak dapat bebas bergerak, tapi mereka dapat melihat-lihat. Anda dapat memberikan isyarat melalui audio, pencahayaan, dan bahkan tatapan aktor yang mendorong pemirsa untuk mengeksplorasi adegan tersebut. Beri hadiah jika mereka menjelajah dan beri alasan untuk menjelajahi lingkungan yang Anda buat. Jika tidak ada alasan untuk melihat-lihat, sebaiknya pertimbangkan kembali apakah video Anda sebaiknya dibuat dalam perspektif 360 derajat atau tidak.
Sebelum Anda mulai mengambil gambar dalam perspektif 360 derajat, pertimbangkan pertanyaan berikut ini:
  • Di mana pemirsa bisa masuk? Apa peran yang mereka mainkan?
  • Apakah mereka diam saja? Jika demikian, mengapa? Apakah itu merupakan bagian dari cerita?
  • Isyarat apa yang dapat Anda tambahkan untuk mengarahkan perhatian mereka ke aksi?
Karena teknologi ini masih baru, pemirsa mungkin tidak mengira bahwa video Anda dapat dijelajahi dalam perspektif 360 derajat. Sebaiknya sampaikan hal ini di awal video. Selain menyampaikan secara lisan, Anda juga dapat mencantumkan “360” dalam judul dan deskripsi video atau menambahkan gambar anak panah yang menunjukkan cara menontonnya.


2. Perlakukan Kamera Seperti Orang 

Pengambilan gambar dalam perspektif 360 derajat membutuhkan jenis kamera khusus dengan minimal dua lensa. Karena pemirsa akan menonton dari pusat aksi dan bukan dari belakang kamera, sebaiknya bingkai gambar dengan sedikit berbeda.
Salah satu cara melakukan pengambilan gambar dalam perspektif 360 derajat adalah memperlakukan kamera seperti orang. Misalnya, jika Anda memegang kamera 360 derajat di tangan, pemirsa mungkin merasa menjadi manusia kecil di telapak tangan King Kong. Jika Anda menempatkan kamera di lantai, pemirsa akan melihat lantai dan bisa merasa menjadi manusia yang tingginya enam inci. Akan lebih alami untuk menempatkan kamera setinggi mata orang yang sedang duduk atau berdiri.
Berikut adalah beberapa saran untuk menyiapkan pengambilan gambar 360 derajat:
  • Jika Anda menggerakkan kamera, gerakan itu harus stabil, tanpa percepatan atau perlambatan, idealnya dalam satu garis lurus tanpa rotasi. Cobalah untuk tidak memutar kamera--menggerakkan secara vertikal atau horizontal, memiringkan, dan memutar kamera dapat membuat pemirsa mual.
  • Pertimbangkan untuk menstabilkan kamera dengan menggunakan tripod atau monopod.
  • Bantu pemirsa untuk mengetahui ke mana harus melihat tanpa terlalu mengontrol. Instruksi lisan boleh digunakan untuk hal ini, tapi dapatkah Anda bereksperimen dengan pencahayaan dan isyarat suara?
  • Luangkan waktu bagi pemirsa untuk mengenal orientasi lokasi baru. Dengan kata lain, jangan terlalu sering memotong ke adegan berbeda. Pikirkan setiap lokasi sebagai tempat pemirsa baru saja membuka penutup mata. Mereka akan mengalami momen “di mana aku?” Pertimbangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengeksplorasi setiap gambar, kemudian lanjutkan ke tempat berikutnya.

 3. Menggabungkan Semuanya

Setelah rekaman terpisah dari setiap kamera selesai dibuat, rekaman disatukan dalam proses yang disebut “penggabungan” untuk menciptakan dunia yang lengkap dan imersif. Penyatuan biasanya dilakukan secara manual dalam proses pascaproduksi, tapi sekarang sedang dikembangkan kamera yang dapat melakukan hal itu sendiri.
Ketika menggabungkan gambar dari beberapa kamera, Anda mungkin melihat garis sambung--yaitu bagian tepi dari setiap gambar terpisah. Garis sambung dapat menjadi masalah. Misalnya, jika ada orang berjalan melalui garis sambung, orang tersebut dapat tampak terdistorsi. Garis sambung merupakan hal yang umum saat mengambil gambar dalam perspektif 360 derajat, namun kiat-kiat ini dapat membantu Anda mengatasinya:
  • Pertama, rencanakan adegan di sekitar garis sambung. Ketahui di mana mereka muncul untuk kamera tertentu, dan atur aktor untuk direkam pada lensa tertentu agar mereka tidak muncul dalam garis sambung.
  • Kerahkan kecerdikan Anda dan lihat di mana Anda dapat menyembunyikan garis sambung, seperti dalam pola gorden atau permadani.
  • Sambungan makin jelas terlihat jika letaknya makin dekat ke kamera, jadi hindari menempatkan benda yang penting dekat pada garis sambung.
  • Akali penempatan operator kamera dengan cerdas. Pertimbangkan untuk menyembunyikannya di tempat tak terduga atau siapkan pengambilan gambar, tekan "rekam", kemudian bersembunyilah.


4.  Audio & Proses Pasca Produksi


Audio adalah salah satu faktor paling penting dalam menciptakan pengalaman imersif sesungguhnya. Apabila Anda sudah nyaman mengambil gambar dalam perspektif 360 derajat, langkah berikutnya mungkin berinvestasi dalam mikrofon ambisonik atau 'spasial'. Peralatan ini merekam suara dalam segala arah, kemudian mengaitkan suara ini ke visual tertentu dalam video Anda. Pemirsa tidak hanya akan melihat mobil yang mendekat, melainkan mendengar suaranya juga.
Proses pascaproduksi untuk video VR dan 360 derajat dapat lebih rumit karena Anda mengambil gambar dengan beberapa lensa sekaligus, tapi hasil akhirnya adalah video ekperiensial yang dapat memamerkan kreativitas serta hasrat Anda dalam cara baru inovatif.




Sistem Layanan Onine Se-Indonesia :
Kursus Komputer, Jasa Desain Grafis, Jasa Website & Landing Page, Jasa Servis Furnitur, Jasa Pengiklan Online, Tutorial, Produk Herbal, Undangan Nikah Online dll
www.sokopati.com



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1


Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel